pendidikan ISLAM

Sabtu, 02 Februari 2013

Makalah: FPI (IDEALITAS DAN REALITAS PENDIDIKAN)

 PENDAHULUAN

            Berbicara mengenai pendidikan tidak terlepas dari realitas yang ada dan bagaimana idealitasnya. Pendidikan sendiri adalah upaya dalam mengembangkan potensi yang ada sehinga tercapailah insan kamil dan tercapailah kebahagiaan dunia dan akherat. Paradigma masyarakat mengenai pendidikan dewasa ini hanya berkutat pada sekolah, lembaga-lembaga pendidikan yang dapat mencetak ijazah maupun sertifikat. permasalahan ini timbul dikarenakan sistem pemerintahan kita yang mulai terpecah sehingga berdampak pada pendidikan sosial kemasyarakatan. Dengan adanya pesoalan ini maka tak jarang diantara kita ada yang menggunakan berbagai macam cara untuk mendapatkan selembar ijazah. Apabila kita menggunakan cara-cara negatif demi mendapatkan ijazah maka tujuan pendidikan tidak akan pernah tercapai meskipun kita memiliki banyak ijazah, bahkan cumloud.
  Pendidikan merupakan hak semua orang, yang sebenarnya bisa didapatkan dimanapun, kapanpun, dan bagaimanapun caranya. Pendidikan pada dasarnya dapat berbentuk pendidikan formal, non-formal, dan juga informal. Pendidikan non-formal yang bisa didapatkan melalui kursus maupun kegiatan organisasi dan sebagainya. Sedangkan pendidikan informal sudah kita terima sejak lahir dari lingkungan dan proses ini berjalan selama kita hidup. Pendidikan formal bisa didapatkan melalui aktivitas belajar dan mengajar di sebuah institusi sosial yang kita kenal dengan istilah sekolah. Tapi sayangnya, tidak semua orang dianggap pantas dan mampu untuk mengenyam pendidikan formal, yang selama ini masih dianggap paling penting oleh masyarakat.

PEMBAHASAN

Idelitas dan realitas pendidikan dapat dipandang dari dua segi, yaitu dari segi konsep filsafat dan dari segi konsep pendidikan.[1]
A.    Idealisme Pendidikan
1.      Konsep Filsafat
a.       Metafisika (hakekat kenyataan)
1)      Absolute, kenyataan yang sebenarnya adalah spiritual dan rohaniah.
2)      Kritis, ada kenyataan yang bersifat fisik dan rohaniah, tetapi kenyataan rohaniah yang lebih dapat diambilkan.
b.      Humanologi (hakekat manusia)
1)      Jiwa dikaruniai kemampuan berfikir/rasional.
2)      Kemampuan berfikir menyebabkan adanya kemampuan memilih.
c.       Epistemologi (hakikat pengetahuan)
1)      Pengetahuan yang benar diperoleh melalui instituisi dan pengingatan kembali melalui berfikir.
2)      Kebenaran hanya mungkin dapat dicapai oleh beberapa orang yang mempunyai akal pikiran yang cemerlang sebagian besar manusia hanya sampai tingkat pendapat.
d.      Aksiologi (hakikat nilai)
Kehidupan manusia diatur oleh kewajiban-kewajiban moral yang diturunkan dari pandangan tentang kenyataan atau metafisika.
2.      Konsep Pendidikan
a.       Tujuan pendidikan: formal dan informal, pertama-tama adalah pembentukan karakter dan kemudian tertuju pada pengembangan bakat dan kebijakan social.
b.      Isi pendidikan atau kurikulum
1)      Pengembangan kemampuan berfikir melalui pendidikan liberal (arets liberais) atau pendidikan umum.
2)      Penyiapan keterampilan bekerja sesuatu mata pencaharian melalui pendidikan praktis.
c.       Metode pendidikan
1)      Metode pendidikan yang disusun adalah metode dialetik, meskipun demikian setiap metode efektif mendorong belajar dapat diterima (ekletif).
2)      Cenderung mengebaikan dasar-dasar fisiologis dalam belajar.
d.      Peranan peserta didik dan pendidik
1)      Peserta didik bebas mengembangkan bakat dan kebribadiannya.
2)      Pendidikan bekerja sama dengan alam dengan proses pengembangan kemampuan ilmiah, sehubungan dengan hal ini, tugas utama pendidik adalah menciptakan lingkungan yang memungkinkan peserta didik dapat belajar dengan efektif dan efisien. Tokoh-tokoh pendukung: plato, William T.Harris, Herman Harrell Horne, Frderick Froebel.

B.     Realitas Pendidikan
  1. Konsep Filsafat
a.       Metafisika
1)      Materialism: kenyataan yang sebenarnya hanyalah kenyataan fisik
2)      Dualism: kenyataan yang sebenarnya adalah kenyataan yang bersifat fisik/material dan bersifat rohaniah/immaterial
3)      Pluralism: kenyataan yang sebenarnya terbentuk dari berbagai bentuk kenyataan.
b.      Humanologi
1)      Hakikat manusia terletak pada apa yang dapat dikerjakan.
2)      Jiwa merupakan sebuah organism yang sangat komples yang mempunyai kemampuan berfikir.

3)      Manusia mungkin mempnyai kebebasan atau tidak mempunyai kebebasan.
c.       Epistimologi
1)      Prinsip ketidakbergantungan: kenyataan hadir dengan sendirinya tidak tergantung pada pngetahuan dan gagasan manusia dan kenyataan dapat diketahui oleh pikiran.
2)      Pengetahuan dapat diperoleh memalui pengindraan
3)      Kebenaran pengetahuan dapat dibuktikan dengan memeriksa kesesuaiannya dengan fakta.
d.      Aksiologi
Tingkah laku manusia diaturoleh hokum-hukumalam yang diperoleh melalui ilmu dan pada taraf yang lebih rendah diatur oleh kebiasaan-kebiasaan atau adat istiadat yang telah teruji dalam kehidupan
  1. Konsep-konsep Pendidikan
a.       Tujuan Pendidikan
Tujuan-tujuan pendidikan adalah dapat menyesuaikan diri secara tepat dalam hidup dan dapat melaksanakan tanggung jawab social
b.      Isi Pendidikan atau Kurikulum
1)      Kurikulum komprehensif yang berisi semua pengetahuan yang berguna bagi penyesuaian diri dalam hidup dan tanggungjawab social.
2)      Kurikulum berisi unsur-unsur pendidikan liberal/pendidikan umum untuk mengembangkan kamampuan berfikir, dan pendidikan praktis untuk kepentingan bekerja.
c.       Metode Pendidikan
1)      Semua kegitan belajar berdasarkan pengalaman baik langsung maupun tidak langsung.
2)      Metode mengajar hendaknya bersifat logis, bertahap atau berurutan.

3)      Pembiasaan merupakan sebuah metode pokok yang diergunakan baik oleh kalangan penganut realism maupun behaviorisme
d.      Peranan Peserta Didik dan Pendidik
1)      Dalam hubungannya dengan pengajaran, peranan peserta didik adalah penguasaaan pengetahhuan yang dapat berubah-ubah.
2)      Dalam hubungannya dengan disiplin , tatacara yang baik sangat penting dalam belajar. Peserta didik perlu mempunyai disiplin mental dan moral untuk setiap tingkat kebajikan.
3)      Peranan pendidik adalah menguasai pengetahuan, ketrampilan teknik-teknik pendidikan dengan kewenangan untuk mencapai hasil pendidikan yang dibebankan padanya. Tokoh-tokoh Pendukung Aristoteles, Johan Amos Comeneus, John Milton, Montaigne

C.    Idealitas dan Realitas  Pendidikan di Indonesia
Seperti yang telah kita ketahui, kualitas pendidikan di Indonesia semakin memburuk. Hal ini terbukti dari kualitas guru, sarana belajar, dan murid-muridnya. Guru-guru tentuya punya harapan terpendam yang tidak dapat mereka sampaikan kepada siswanya. Memang, guru-guru saat ini kurang kompeten. Banyak orang yang menjadi guru karena tidak diterima di jurusan lain atau kekurangan dana. Kecuali guru-guru lama yang sudah lama mendedikasikan dirinya menjadi guru. Selain berpengalaman mengajar murid, mereka memiliki pengalaman yang dalam mengenai pelajaran yang mereka ajarkan. Belum lagi masalah gaji guru. Jika fenomena ini dibiarkan berlanjut, tidak lama lagi pendidikan di Indonesia akan hancur mengingat banyak guru-guru berpengalaman yang pensiun. Sarana pembelajaran juga turut menjadi faktor semakin terpuruknya pendidikan di Indonesia, terutama bagi penduduk di daerah terbelakang. Namun, bagi penduduk di daerah terbelakang tersebut, yang terpenting adalah ilmu terapan yang benar-benar dipakai buat hidup dan kerja. Ada banyak masalah yang menyebabkan mereka tidak belajar secara normal seperti kebanyakan siswa pada umumnya, antara lain guru dan sekolah.
“Pendidikan ini menjadi tanggung jawab pemerintah sepenuhnya,” kata Presiden Susilo Bambang Yudhoyono usai rapat kabinet terbatas di Gedung Depdiknas, Jl Jenderal Sudirman, Jakarta, Senin (12/3/2007).
Presiden memaparkan beberapa langkah yang akan dilakukan oleh pemerintah dalam rangka meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia, antara lain yaitu:
1.       Meningkatkan akses terhadap masyarakat untuk bisa menikmati pendidikan di Indonesia. Tolak ukurnya dari angka partisipasi.
2.       Menghilangkan ketidakmerataan dalam akses pendidikan, seperti ketidakmerataan di desa dan kota, serta jender.
3.       Meningkatkan mutu pendidikan dengan meningkatkan kualifikasi guru dan dosen, serta meningkatkan nilai rata-rata kelulusan dalam ujian nasional.
4.       Pemerintah akan menambah jumlah jenis pendidikan di bidang kompetensi atau profesi sekolah kejuruan. Untuk menyiapkan tenaga siap pakai yang dibutuhkan.
5.       Pemerintah berencana membangun infrastruktur seperti menambah jumlah komputer dan perpustakaan di sekolah-sekolah.
6.       Pemerintah juga meningkatkan anggaran pendidikan. Untuk tahun ini dianggarkan Rp 44 triliun.
7.       Penggunaan teknologi informasi dalam aplikasi pendidikan.
Langkah terakhir, pembiayaan bagi masyarakat miskin untuk bisa menikmati fasilitas penddikan.
·            Penyebab Rendahnya Kualitas Pendidikan di Indonesia
a.       Efektifitas Pendidikan Di Indonesia
Pendidikan yang efektif adalah suatu pendidikan yang memungkinkan peserta didik untuk dapat belajar dengan mudah, menyenangkan dan dapat tercapai tujuan sesuai dengan yang diharapkan. Dengan demikian, pendidik (dosen, guru, instruktur, dan trainer) dituntut untuk dapat meningkatkan keefektifan pembelajaran agar pembelajaran tersebut dapat berguna. Efektifitas pendidikan di Indonesia sangat rendah. Setelah praktisi pendidikan melakukan penelitian dan survey ke lapangan, salah satu penyebabnya adalah tidak adanya tujuan pendidikan yang jelas sebelm kegiatan pembelajaran dilaksanakan. Hal ini menyebabkan peserta didik dan pendidik tidak tahu “goal” apa yang akan dihasilkan sehingga tidak mempunyai gambaran yang jelas dalam proses pendidikan. Jelas hal ini merupakan masalah terpenting jika kita menginginkan efektifitas pengajaran. Bagaimana mungkin tujuan akan tercapai jika kita tidak tahu apa tujuan kita..
b.      Efisiensi Pengajaran Di Indonesia
Efisien adalah bagaimana menghasilkan efektifitas dari suatu tujuan dengan proses yang lebih ‘murah’. Dalam proses pendidikan akan jauh lebih baik jika kita memperhitungkan untuk memperoleh hasil yang baik tanpa melupakan proses yang baik pula. Hal-hal itu jugalah yang kurang jika kita lihat pendidikan di Indonesia. Kita kurang mempertimbangkan prosesnya, hanya bagaimana dapat meraih standar hasil yang telah disepakati.
Beberapa masalah efisiensi pengajaran di dindonesia adalah mahalnya biaya pendidikan, waktu yang digunakan dalam proses pendidikan, mutu pegajar dan banyak hal lain yang menyebabkan kurang efisiennya proses pendidikan di Indonesia.
c.       Standardisasi Pendidikan Di Indonesia
Jika kita ingin meningkatkan mutu pendidikan di Indonesia, kita juga berbicara tentang standardisasi pengajaran yang kita ambil. Tentunya setelah melewati proses untuk menentukan standar yang akan diambil.
Dunia pendidikan terus berubah. Kompetensi yang dibutuhka oleh masyarakat terus-menertus berunah apalagi di dalam dunia terbuka yaitu di dalam dunia modern dalam era globalisasi. Kompetendi-kompetensi yang harus dimiliki oleh seseorang dalam lembaga pendidikan haruslah memenuhi standar.
Seperti yang kita lihat sekarang ini, standar dan kompetensi dalam pendidikan formal maupun informal terlihat hanya keranjingan terhadap standar dan kompetensi. Kualitas pendidikan diukur oleh standard an kompetensi di dalam berbagai versi, demikian pula sehingga dibentuk badan-badan baru untuk melaksanakan standardisasi dan kompetensi tersebut seperti Badan Standardisasi Nasional Pendidikan (BSNP).
Tinjauan terhadap standardisasi dan kompetensi untuk meningkatkan mutu pendidikan akhirnya membawa kami dalam pengunkapan adanya bahaya yang tersembunyi yaitu kemungkinan adanya pendidikan yang terkekung oleh standar kompetensi saja sehngga kehilangan makna dan tujuan pendidikan tersebut.
Peserta didik Indonesia terkadang hanya memikirkan bagaiman agar mencapai standar pendidikan saja, bukan bagaimana agar pendidikan yang diambil efektif dan dapat digunakan.
·            Selain beberapa penyebab rendahnya kualitas pendidikan di atas, berikut ini akan dipaparkan pula secara khusus beberapa masalah yang menyebabkan rendahnya kualitas pendidikan di Indonesia.
1.        Rendahnya Kualitas Sarana Fisik
Untuk sarana fisik misalnya, banyak sekali sekolah dan perguruan tinggi kita yang gedungnya rusak, kepemilikan dan penggunaan media belajar rendah, buku perpustakaan tidak lengkap. Sementara laboratorium tidak standar, pemakaian teknologi informasi tidak memadai dan sebagainya. Bahkan masih banyak sekolah yang tidak memiliki gedung sendiri, tidak memiliki perpustakaan, tidak memiliki laboratorium dan sebagainya.
2.        Rendahnya Kualitas Guru
Keadaan guru di Indonesia juga amat memprihatinkan. Kebanyakan guru belum memiliki profesionalisme yang memadai untuk menjalankan tugasnya sebagaimana disebut dalam pasal 39 UU No 20/2003 yaitu merencanakan pembelajaran, melaksanakan pembelajaran, menilai hasil pembelajaran, melakukan pembimbingan, melakukan pelatihan, melakukan penelitian dan melakukan pengabdian masyarakat.
Bukan itu saja, sebagian guru di Indonesia bahkan dinyatakan tidak layak mengajar. Walaupun guru dan pengajar bukan satu-satunya faktor penentu keberhasilan pendidikan tetapi, pengajaran merupakan titik sentral pendidikan dan kualifikasi, sebagai cermin kualitas, tenaga pengajar memberikan andil sangat besar pada kualitas pendidikan yang menjadi tanggung jawabnya. Kualitas guru dan pengajar yang rendah juga dipengaruhi oleh masih rendahnya tingkat kesejahteraan guru.
3.        Rendahnya Kesejahteraan Guru
Rendahnya kesejahteraan guru mempunyai peran dalam membuat rendahnya kualitas pendidikan Indonesia. Berdasarkan survei FGII (Federasi Guru Independen Indonesia) pada pertengahan tahun 2005, idealnya seorang guru menerima gaji bulanan serbesar Rp 3 juta rupiah. Sekarang, pendapatan rata-rata guru PNS per bulan sebesar Rp 1,5 juta. guru bantu Rp, 460 ribu, dan guru honorer di sekolah swasta rata-rata Rp 10 ribu per jam. Dengan pendapatan seperti itu, terang saja, banyak guru terpaksa melakukan pekerjaan sampingan.
4.         Rendahnya Prestasi Siswa
Dengan keadaan yang demikian itu (rendahnya sarana fisik, kualitas guru, dan kesejahteraan guru) pencapaian prestasi siswa pun menjadi tidak memuaskan. Sebagai misal pencapaian prestasi fisika dan matematika siswa Indonesia di dunia internasional sangat rendah. Menurut Trends in Mathematic and Science Study (TIMSS) 2003 (2004), siswa Indonesia hanya berada di ranking ke-35 dari 44 negara dalam hal prestasi matematika dan di ranking ke-37 dari 44 negara dalam hal prestasi sains. Dalam hal ini prestasi siswa kita jauh di bawah siswa Malaysia dan Singapura sebagai negara tetangga yang terdekat.
5.         Kurangnya Pemerataan Kesempatan Pendidikan
Kesempatan memperoleh pendidikan masih terbatas pada tingkat Sekolah Dasar. Data Balitbang Departemen Pendidikan Nasional dan Direktorat Jenderal Binbaga Departemen Agama tahun 2000 menunjukan Angka Partisipasi Murni (APM) untuk anak usia SD pada tahun 1999 mencapai 94,4% (28,3 juta siswa). Pencapaian APM ini termasuk kategori tinggi. Angka Partisipasi Murni Pendidikan di SLTP masih rendah yaitu 54, 8% (9,4 juta siswa). Sementara itu layanan pendidikan usia dini masih sangat terbatas. Kegagalan pembinaan dalam usia dini nantinya tentu akan menghambat pengembangan sumber daya manusia secara keseluruhan. Oleh karena itu diperlukan kebijakan dan strategi pemerataan pendidikan yang tepat untuk mengatasi masalah ketidakmerataan tersebut.
6.        Rendahnya Relevansi Pendidikan Dengan Kebutuhan
Hal tersebut dapat dilihat dari banyaknya lulusan yang menganggur. Menurut data Balitbang Depdiknas 1999, setiap tahunnya sekitar 3 juta anak putus sekolah dan tidak memiliki keterampilan hidup sehingga menimbulkan masalah ketenagakerjaan tersendiri. Adanya ketidakserasian antara hasil pendidikan dan kebutuhan dunia kerja ini disebabkan kurikulum yang materinya kurang funsional terhadap keterampilan yang dibutuhkan ketika peserta didik memasuki dunia kerja.
7.         Mahalnya Biaya Pendidikan
Pendidikan bermutu itu mahal. Kalimat ini sering muncul untuk menjustifikasi mahalnya biaya yang harus dikeluarkan masyarakat untuk mengenyam bangku pendidikan. Mahalnya biaya pendidikan dari Taman Kanak-Kanak (TK) hingga Perguruan Tinggi (PT) membuat masyarakat miskin tidak memiliki pilihan lain kecuali tidak bersekolah. Orang miskin tidak boleh sekolah. Makin mahalnya biaya pendidikan sekarang ini tidak lepas dari kebijakan pemerintah yang menerapkan MBS (Manajemen Berbasis Sekolah). MBS di Indonesia pada realitanya lebih dimaknai sebagai upaya untuk melakukan mobilisasi dana. Karena itu, Komite Sekolah/Dewan Pendidikan yang merupakan organ MBS selalu disyaratkan adanya unsur pengusaha.
Asumsinya, pengusaha memiliki akses atas modal yang lebih luas. Hasilnya, setelah Komite Sekolah terbentuk, segala pungutan uang selalu berkedok, “sesuai keputusan Komite Sekolah”. Namun, pada tingkat implementasinya, ia tidak transparan, karena yang dipilih menjadi pengurus dan anggota Komite Sekolah adalah orang-orang dekat dengan Kepala Sekolah. Akibatnya, Komite Sekolah hanya menjadi legitimator kebijakan Kepala Sekolah, dan MBS pun hanya menjadi legitimasi dari pelepasan tanggung jawab negara terhadap permasalahan pendidikan rakyatnya.[2]

















PENUTUP

Dari pemaparan diatas dapat diambil kesimpulan bahwa Idelitas dan realitas pendidikan dapat dipandang dari dua segi, yaitu dari segi konsep filsafat dan dari segi konsep pendidikan.
Permasalahan-permasalahan yang ada dalam pendidikan dewasa ini harus memperhatikan system pendidikan. System pendidikan harus di perbaharui dan dikaji ulang agar tidak ada kesenjangan antara realitas dengan idealitas.
Demikianlah makalah yang kami buat kritik dan saran yang membangun sangat kami harapkan demi perbaikan dan kelengkapan makalah kami.

DAFTAR PUSTAKA

Mudyahardjo, Redja. 2008. Filsafat Ilmu Pendidikan. Bandung: Remaja Rosdakarya
Ahmadi, Abu. 1991. Sosiologi Pendidikan. Jakarta: Rineka Cipta
Nasution, S. 1999. Sosiologi Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara
http://nurkholisgravelious.blogspot.com/2010/07/sosiologi-pendidikan.html



[1] Mudyahardjo, Redja. 2008. Filsafat Ilmu Pendidikan. Bandung: Remaja Rosdakarya. hal. 227 cet. 5
[2] http://nurkholisgravelious.blogspot.com/2010/07/sosiologi-pendidikan.html

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar