PRINSIP-PRINSIP PEMANFAATAN MEDIA

4
COM


PRINSIP-PRINSIP PEMANFAATAN MEDIA

Makalah ini Disusun Guna Memenuhi Tugas Mata Kuliah Media Pembelajaran
Dosen Pengampu : Subar Junanto, M.Pd

Disusun oleh :
1.              Rizka Elfira                 (26.08.3.1.143)
2.              Rusyana Lailatun .F    (26.08.3.1.146)
3.              Salis Marchamah         (26.08.3.1.147)
4.              Sari Jumiati                  (26.08.3.1.148)
5.              Setya Setyawan           (26.08.3.1.149)

JURUSAN TARBIYAH/PAI
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI SURAKARTA
2010


BAB I
PENDAHULUAN.
Secara etimologi, kata “media” merupakan bentuk jamak dari “medium”, yang berasal dan Bahasa Latin “medius” yang berarti tengah. Sedangkan dalam Bahasa Indonesia, kata “medium” dapat diartikan sebagai “antara” atau “sedang” sehingga pengertian media dapat mengarah pada sesuatu yang mengantar atau meneruskan informasi (pesan) antara sumber (pemberi pesan) dan penerima pesan. Media dapat diartikan sebagai suatu bentuk dan saluran yang dapat digunakan dalam suatu proses penyajian informasi (AECT, 1977:162).
Istilah media mula-mula dikenal dengan alat peraga, kemudian dikenal dengan istilah audio visual aids (alat bantu pandang/dengar). Selanjutnya disebut instructional materials (materi pembelajaran), dan kini istilah yang lazim digunakan dalam dunia pendidikan nasional adalah instructional media (media pendidikan atau media pembelajaran). Dalam perkembangannya, sekarang muncul istilah e-Learning. Huruf “e” merupakan singkatan dari “elektronik”. Artinya media pembelajaran berupa alat elektronik, meliputi CD Multimedia Interaktif sebagai bahan ajar offline dan Web sebagai bahan ajar online.
Dengan masuknya pengaruh tekhnologi audio pada sekitar pertengahan  abad ke -20 alat visual ini dilengkapi dengan digunakannya alat audio sehingga kita kenal adanya alat audio visual. Bermacam peralatan digunakan guru untuk menyampaikan pesan ajaran kepada siswa melalui penglihatan dan pendengaran untuk menghindari verbalisme yang masih mungkin terjadi kalau hanya digunakan alat bantu visual semata.
Mengingat besarnya peran media bagi pembelajaran, Maka di makalah ini akan membahas mengenai prinsip – prinsip pemanfaatan media .



BAB II
ISI
A.  Pemanfaatan media
Pemanfaatan adalah aktivitas menggunakan proses dan sumber untuk belajar. Fungsi pemanfaatan sangat  penting karena membicarakan kaitan antara pembelajar dengan bahan atau sistem pembelajaran. Mereka yang terlibat dalam pemanfaatan mempunyai tanggung jawab untuk mencocokkan pembelajar dengan bahan dan aktivitas yang spesifik, menyiapkan pembelajar agar dapat berinteraksi dengan bahan dan aktivitas yang dipilih, memberikan bimbingan selama kegiatan, memberikan penilaian atas hasil yang dicapai pembelajar, serta memasukannya ke dalam prosedur oragnisasi yang berkelanjutan.
Kawasan pemanfaatan mungkin merupakan kawasan Teknologi Pembelajaran, mendahului kawasan desain dan produksi media pembelajaran yang sistematis. Kawasan ini berasal dari gerakan pendidikan visual pada dekade pertama abad ke 20, dengan didirikannya museum-museum. Pada tahun-tahun awal abad ke-20, guru mulai  berupaya untuk menggunakan  film teatrikal dan film singkat mengenai pokok-pokok pembelajaran di kelas.
Di antara penelitian formal yang paling tua mengenai aplikasi media dalam pendidikan ialah studi  yang dilakukan oleh Lashley dan Watson mengenai penggunaan film-film pelatihan militer Perang Dunia I (tentang pencegahan penyakit kelamin). Setelah Perang Dunia II, gerakan pembelajaran audio-visual mengorganisasikan dan mempromosikan  bahan-bahan audio visual, sehingga menjadikan persediaan bahan pembelajaran semakin berkembang dan mendorong cara-cara baru membantu guru. Selama tahun 1960-an banyak sekolah dan perguruan tinggi mulai banyak mendirikan pusat-pusat media pembelajaran.
Karya  Dale pada 1946 yang berjudul Audiovisual Materials in Teaching,  yang di dalamnya mencoba memberikan rasional umum tentang pemilihan bahan dan aktivitas belajar yang tepat. Pada tahun, 1982 diterbitkan diterbitkan buku Instructional Materials and New Technologies of Instruction oleh Heinich, Molenda dan Russel. Dalam buku ini  mengemukakan model ASSURE, yang dijadikan acuan prosedur untuk merancang pemanfaatan media dalam mengajar. Langkah-langkah tersebut meliputi : 
1.    Analyze leraner (menganalisis pembelajar)
2.    State Objective (merumuskan tujuan)
3.    Select Media and Materials (memilih media dan bahan)
4.    Utilize Media and Materials (menggunakan media dan bahan)
5.    Require Learner Participation (melibatkan siswa)
6.    Evaluate and Revise (penilaian dan revisi)
Pemanfaatan Media yaitu penggunaan yang sistematis dari sumber belajar. Proses pemanfaatan media merupakan proses pengambilan keputusan berdasarkan pada spesifikasi desain pembelajaran. Misalnya bagaimana suatu film diperkenalkan atau ditindaklanjuti dan dipolakan sesuai dengan bentuk belajar yang diinginkan. Prinsip-prinsip pemanfaatan juga dikaitkan dengan karakteristik pembelajar. Seseorang yang belajar mungkin memerlukan bantuan keterampilan visual atau verbal agar dapat menarik keuntungan dari praktek atau sumber belajar.[1]
Ada beberapa alas an, mengapa media pengajaran dapat mempertinggi proses belajar siswa. Alasan  yang pertama berkenaan dengan manfaat media pengajaran dalam proses belajar siswa. Alasan  kedua mengapa penggunaan media pengajaran dapat mempertingi proses dan hasil pengajaran adalah berkenaan dengan taraf berfikir siswa.[2]
Secara umum manfaat penggunaan media pengajaran dalam kegiatan belajar mengajar, yaitu:
1.    media pengajaran dapat menarik dan memperbesar perhatian anak didik terhadap materi pengajaran yang disajikan.
2.    media pengajaran dapat mengatasi perbedaan pengalaman belajar anak didik berdasarkan latar belakang sosial ekonomi
3.    media pengajaran dapat membantu anak didik dalam memberikan pengalaman belajar yang sulit diperoleh dengan cara lain.
4.     media pengajaran dapat membantu perkembangan pikiran anak didik secara teratur tentang hal yang mereka alami dalam kegiatan belajar mengajar mereka, misalnya menyaksikan pemutaran film tentang suatu kejadian atau peristiwa. rangkaian dan urutan kejadian yang mereka saksikan dan pemutaran film tadi akan dapat mereka pelajari secara teratur dan berkesinambungan.
5.    media pengajaran dapat menumbuhkan kemampuan anak didik untuk berusaha mempelajari sendiri berdasarkan pengalaman dan kenyataan.
6.    media pengajaran dapat mengurangi adanya verbalisme dalam suatu proses (dalam bentuk kata-kata tertulis atau lisan belaka) (Latuheru, 1988:23-24)

B.  Prinsip-prinsip pemanfaatan media pembelajaran
1.    Prinsip-Prinsip Penggunaan Media
1.    Penggunaan media pengajaran hendaknya dipandang sebagai bagian yang integral dari sesuatu sistem pengajaran dan bukan hanya sebagai alat bantu yang berfugsi sebagai tambahan yang digunakan bila dianggap perlu dan hanya dimanfaatkan sewaktu-waktu dibutuhkan.
2.    Media pengajaran hendaknya dipandang sebagai sumber belajar yang digunakan dalam usaha memecahkan masalah yang dihadapi dalam proses belajar mengajar.
3.    Guru hendaknya benar-benar menguasai teknik-teknik dari suatu media pengajaran yang digunakan.
4.    Guru seharusnya memperhitungkan untung ruginya pemanfaatan suatu  media pengajaran
5.    Penggunaan media pengajaran harus diorganisir secara sistematis bukan sembarang menggunkannya
6.    Jika sekiranya suatu pokok bahasan memerlukan lebih dari macam media, maka guru dapat memanfaatkan multy media yang menguntungkan dan memperlancar proses belajar mengajar dan juga dapat merangsang siswa dalam belajar
2.    Beberapa syarat umum yang harus dipenuhi dalam pemanfaatan media pengajaran dalam PBM, yakni
1.    Media pengajaran yang digunakan harus sesuai dengan tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan
2.    Media pengajaran tersebut merupakan media yang dapat dilihat atau didengar
3.    Media pengajaran yang digunakan dapat merespon siswa belajar
4.    Media pengajaran juga harus sesuai dengan kondisi individu siswa
5.    Media pengajaran tersebut merupakan perantara (medium) dalam proses pembelajaran siswa
3.    Penggunaan media pengajaran seharusnya mempertimbangkan beberapa hal berikut ini:
1.    Guru harus berusaha dapat memperagakan atau merupakan model dari suatu pesan (isi pelajaran) disampaikan
2.    Jika objek yang akan diperagakan tidak mungkin dibawa kedalam kelas, maka kelaslah yang diajak kelokasi objek tersebut
3.    Jika kelas tidak memungkinkan dibawa kelokasi objek tersebut, usahakan model atau tiuannya
4.    Bilamana model atau maket juga tidak didapatkan, usahakan gambar atau foto-foto dari objek yang berkenaan dengan materi (pesan) pelajaran tersebut
5.    Jika gambar atau foto juga tidak  didapatkan, maka guru berusaha membuat sendirimedia sederhana yang dapat menarik perhatian belajar siswa
6.    Bilamana media sederhana tidak dapat dibuat oleh guru, gunankan papan tulis untuk mengilustrasikan objek atau pesan tersebut memlalui gambar sederhana dengan garis lingkaran.
4.    Beberapa pola pemanfaatan media pembelajaran, yaitu [3]
1.    pemanfaatan media dalam situasi kelas atau di dalam kelas, yaitu media pembelajaran dimanfaatkan untuk menunjang tercapainya tujuan tertentu dan pemanfaatannya dipadukan dengan proses belajar mengajar dalam situasi kelas.
Dalam merencanakan pemanfaatan media itu guru harus melihat tujuan yang hendak dicapai , materi pembelajaran yang mendukung tercapainya tujuan itu , serta strategi belajar mengajar sesuai  untuk mencapai tujuan itu. Media pembelajaran yang dipilih haruslah sesuai dengan ketiga hal itu ialah tujuaan , materi dan strategi pembelajaran.[4]
2.     pemanfaatan media di luar situasi kelas atau di luar kelas, meliputi
(a) pemanfaatan secara bebas yaitu media yang digunakan tidak diharuskan kepada pemakai tertentu dan tidak ada kontrol dan pengawasan pada pembuat atau pengelola media, serta pemakai tidak dikelola dengan prosedur dan pola tertentu
(b) pemanfaatan secara terkontrol yaitu media itu digunakan dalam serangkaian kegiatan yang diatur secara sistematik untuk mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditentukan untuk dipakai oleh sasaran pemakai (populasi target) tertentu dengan mengikuti pola dan prosedur pembelajaran tertentu hingga mereka dapat mencapai tujuan pembelajaran tersebut
Biasanya sasaran didik diatur dalam kelompok- kelompok belajar. Setiap kelompok diketuai oleh pemimpin kelompok dan disupervisi oleh seorang tutor. Sebelum memanfaatkan media tujuan pembelajaran akan yang akan dicapai dan dibahas atau ditentukan terlebih dahulu . Kemudian mereka dapat belajar dari media itu secara berkelompok atau secara perorangan .[5]
3.     pemanfaatan media secara perorangan, kelompok atau massal, meliputi
(a)      pemanfaatan media secara perorangan, yaitu penggunaan media oleh seorang saja (sendirian saja)
Media seperti ini biasanya dilengkapi dengan petunjuk pemanfaatan yang jelas sehingga orang dapat menggunakannya dengan mandiri , artinya orang itu tidak perlu bertanya kepada orang lain tentang bagaimana cara menggunakannya alat apa yang diperlukan , dan bagaimana mengetahui bahwa ia telah berhasil dalam belajar.
Bila di dalam suatu ruangan  ada beberapa orang yang belajar menggunakan media secara perorangan , sebaiknya masing – masing menempati karel sehingga tidak saling menggannggu . Karel  ialah meja belajar yang disekat – sekat menjadi bagian kecil hanya cukup untuk duduk seorang. Tiap karel dilengkapi dengan perlengkapan media seperti tape recorder, proyektor film bingkai , ear phone, layar kecil dan sebagainya .
(b)     pemanfaatan media secara kelompok, baik kelompok kecil (2—8 orang) maupun kelompok besar (9—40 orang)
Media  yang digunakan secara berkelompok harus memenuhi beberapa persyaratan :
a.    Suara yang disajikan oleh media itu harus cukup keras sehingga semua anggota kelompok dapat mendengarnya .
b.    Gambar atua tulisan dalam media itu harus cukup besar sehingga dapat dilihat oleh semua anggota kelompok itu.
c.    Perlu adanya alat penyaji yang dapat memperkeras suara (amplifier ) dan membesarkan gambar (proyektor).[6]
4.    media dapat juga digunakan secara massal, artinya media dapat digunakan oleh orang yang jumlahnya puluhan, ratusan bahkan ribuan secara bersama-sama.
Berdasarkan pendapat tersebut di atas, dapat dikatakan bahwa seorang guru
dalam memanfaatkan suatu media untuk digunakan dalarn proses belajar mengajar harus memperhatikan beberapa hal, yaitu
1.    tujuan pembelajaran yang akan dicapai,
2.    isi materi pelajaran,
3.    strategi belajar mengajar yang digunakan,
4.    karakteristik siswa yang belajar.
 Karakteristik siswa yang belajar yang dimaksud adalah tingkat pengetahuan siswa terhadap media yang digunakan, bahasa siswa, artinya isi pesan yang disampaikan melalui media harus disesuaikan dengan tingkat kemampuan berbahasa atau kosakata yang dimiliki siswa sehingga memudahkan siswa dalam memahami isi materi yang disampaikan melalui media. Selain itu, penting juga untuk memperhatikan jumlah siswa. Artinya media yang digunakan hendaknya disesuaikan dengan jumlah siswa yang belajar.[7]
C.  Strategi pemanfaatan
1.      Persiapan sebelum menggunakan media supaya kegitan belajar mengajar dapat berjalan dengan baik maka segala sesuatu yang akan digunakan dalam pembelajaran harus dipersiapkan.
2.      Kegiatan selama menggunakan media suasana yang tenang amat diperlukan selama menggunakan media
3.      Kegiatan tindak lanjut  kegiatan tindak lanjut iniialah untuk mnjajagi apakah tujuan telah tercapai dan untuk memantpkan pemahaman terhadap materi instruksional yang disampaikan melalui media bersangkutan



BAB III
KESIMPULAN
Dari makalah tersebut dapat disimpulkan bahwa media sangat penting dalam pembelajaran sehingga kita harus menguasai prinsip-prinsip manfaat dari media agar mudah dalam menggunakan dan menerapkan media tersebut.
Prinsip-prinsip tersebut yaitu:
1.    pemanfaatan media dalam situasi kelas atau di dalam kelas
2.    pemanfaatan media di luar situasi kelas atau di luar kelas
a.    pemanfaatan secara bebas
b.    pemanfaatan secara terkontrol
3.    pemanfaatan media secara perorangan, kelompok atau missal
a.    pemanfaatan media secara perorangan
b.    pemanfaatan media secara kelompok
4.    media dapat juga digunakan secara missal










DAFTAR PUSTAKA

Nana Sudjana dan Ahmad Rivai.2002. Media Pengajaran. Bandung: Sinar  Baru Algensindo
Profesor.Dr.H. Asnawir dan Drs.M.Basyiruddin Usman, M. Pd.2002. Media Pembelajaran.  Jakarta: Ciputat Press
Prof.Dr. Azhar Arsyad, MA.2006. Media Pembelajaran. Jakarta: GRAFINDO Persada.
http://endonesa.wordpress.com/ajaran-pembelajaran/media-pembelajaran/


[2] Nana sudjana dan ahmad rivai.media pengajaran.hal,2-3
[3] http://endonesa.wordpress.com/ajaran-pembelajaran/media-pembelajaran/
[4] Media pendidikan,hal 190
[5] Ibid.hal,192
[6] Ibid195-196
[7] http://endonesa.wordpress.com/ajaran-pembelajaran/media-pembelajaran/


KAUM MUDA DAN PEMBAHARUAN ISLAM DI MINANGKABAU

0
COM

KAUM MUDA DAN PEMBAHARUAN ISLAM
DI MINANGKABAU

LOGO STAIN

Makalah ini Disusun Guna Memenuhi Tugas Mata Kuliah
Perkembangan Pemikiran Moderen Dalam Islam (PPMDI)

Dosen Pengampu : Toto Suharto, M.Ag.


Disusun oleh :
Rizka Elfira                 26.08.3.1.143
Rusyana Lailatun        26.08.3.1.153





JURUSAN TARBIYAH/PAI
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI SURAKARTA
2010
BAB I
PENDAHULUAN

Gerakan pembaharuan islam di Minangkabau, sebagaimana dibelahan lain dunia islam. Pada awalnya muncul sebagai intellectual terhadap berbagai bentuk penyimpangan dalam pemahaman maupun pengamalan islam dikalangan masyarakat minangkabau. Menurut ulama kaum muda, penyimpanagan yang telah lama berurat akar itu disebabkan oleh begitu kuatnya otoritas keagamaan yang semata-mata dipegang oleh ulama sehingga umat tidak punya pilihan lain kecuali mengikutinya tanpa taqlid. Pada gilirannya, corak keberagamaan yang seperti ini bukan hanya menyebabkan  terabaikannya persoalan sejauh mana pemahaman dan pengamalan itu benar-benar sebagaimana yang diajarkan oleh Allah dan Rasul-Nya, tapi lebih dari itu, tidak akan dapat memfungsikan islam sebagai pendorong kemajuan umatnya. Fenomena keberagaman yang seperti inilah yang mendorong kaum muda untuk melakukan reorientasi pemahaman keagamaan masyarakat minangkabau dengan melalui ijtihad meruju’ langsung pada Al-Qur’an dan Sunnah dan atas dasar itu membersihkan pemahaman agama umat dari segala bentuk penyimpangan yang sudah lama ada.[1]
Kendati pada awalnya merupakan gerakan intelektual, gerakan pembaharuan yang dilakukan oleh kaum muda ternyata menimbulkan implikasi social yang hebat dengan munculnya berbagai bentuk konflik di masyarakat minangkabau yang sebelumnya tidak ada. Sebagai puncak dari konflik tersebuat adalah pecahnya masyarakat minangkabau. Karena bagi masyarakat minangkabau, islam bukan sekedar agama dan sumber identitas saja. Tetapi juga menjadi salah satu pilar penting selain adat yang membentuk struktur social masyarakat minangkabau



BAB II
PEMBAHASAN

A.           Latar belakang munculnya gerakan pembaharuan di Minangkabau
Gerakan pembaharuan islam yang muncul di awal abad 20 di Minangkabau adalah suatu gerakan perubahan yang terutama didorong oleh corak keberagamaan masyarakat minangkabau. Atas dasar ini, gerakan pembaharuan itu merupakan reaksi terhadap berbagai problem perkembangan islam sebagaimana dipahami dan diamalkan di minangkabau.
Untuk memahami hal itu, dengan ringkas perlu  disinggung corak islam yang berkembang diminangkabau. Sejarah mencatat, unsur dominan yang sangat mewarnai perkembangan awal islam dinusantara ialah kuatnya pengaruh sufisme, terutama sufisme tarekat. Hal ini disebabkan oleh kenyataan bahwa islamisasi nusantara secara besar-besaran terjadi pada saat berkembang subur sufisme sebagai implikasi dari jatuhnya baghdad. Daerah minangkabau pada gilirannya tidak bisa terhindar dari pengaruh sufisme tarekat tersebut, sehingga didaerah ini paling tidak sejak awal sejarah diminangkabau sufisme tarekat tersebut mendominasi perkembangan islam diminangkabau. Yang paling menonjol peranannya adalah tarekat syatariyah, qadariyah dan naqsabandiyah.
Islamisasi minangkabau lebih terbentuk melalui akulturasi budaya ketimbang proses politik seperti proses islamisasi daerah lain di Indonesia. Hal ini sayangnya mengakibatkan perkembangan islam terkesan sangat lamban karena proses yang terjadi tidak melibatkan unsur pemaksaan kekuasaan politik. Walaupun demikian harus diakui , lambat laun eksistensi islam dalam struktur dan budaya masyarakat minangkabau sesungguhnya menjadi semakin  dominan. Tapi perlu juga dipahami, sebagai konsekwensi hal ini tidak serta merta bisa menghilangkan semua unsur lama yang telah ada dalam proses tersebut sesungguhnya ialah continuity and change.


B.            Tokoh pembaharu di minangkabau
1.    Syaikh ahmad khatib
Seorang pelopor dari golongan pembaharuan di daerah Minangkabau adalah Syaikh Ahmad Khatib yang menyebarkan pikiran-pikirannya dari masa duapuluh terakhir dari abad yang lalu sampai 10-15 tahun pertama dari abad ini. Dilahirkan di Bukittinggi pada tahun1855 dikalangan keluarga yang mempuyai latarbelakang agama dan adat yang kuat , Syaikh Ahmad Khatib memperoleh pendidikannya pada sekolah rendah dan sekolah guru ini didirikan oleh pemeritahan belanda. Ia pergi ke Mekkah pada tahun 1876  ia mencapai kedudukan tertinggi dalam mengajarkan agama, yaitu sebagai imam dari mazhab Syafi’i di masjid al-haram. Walaupun ia tidak pernah kembali ke daerah asalnya kemudian, tetapi ia tetap mempunyai hubungan dengan daerah asalnya ini melalui mereka yang naik haji ke mekkah dan belajar padanya dan yang  kemudian menjadi guru di daerah masing-masing. Hubungan tersebut dipererat lagi dengan publikasi tulisan-tulisannya sendiri tentang persoalan yang dipertikaikan yang sering dikemukakan kepadanya oleh bekas murid-muridnya di Indonesia. Sebagai imam dari madzhab Syafi’i tidaklah mungin diharapkakn dari Syaikh Ahmad Khatib untuk meninggallkan madzhab ini.
Tetapi ia tidak melarang murid-muridnya untuk membaca dan mempelajari tulisan  Muhammad Abduh, seperti yang terdapat dalam majalah Al’urwadt Al-Wustqa. Dan tafsir Al-Manar, Walaupun ia membiarkan hal ini dengan maksud supaya pemikiran yang dikemukakan oleh pembaharu mesir tersebut ditolak. Sebaliknya pula ia kenal betul dengan peringatan yang diberikan oleh imam Syafi’i yang mendesak pada siapapun juga umumnya untuk meninggalkan fatwanya (imam Syafi’i sendiri) apabila fatwa-fatwa  ini ternyata berlawanan dengan sunnah Nabi. Mengenai masalah-masalah di Minangkabau, Syaikh Ahmad Khatib terkenal sangat menolak dua macam kebiasaan. Ia sangat menentang thareqat naqsabandiyah yang sangat banyak praktekkan pada saat itu seperti ia pun juga sangat menentang peraturan-pertauran adat mengenai hak waris. Kedua hal ini merupakan masalah yang terus menerus ditentang kemudian oleh pembaharu-pembaharu lain didaerah tersebut.[2]

2.    Syaikh thaher djalaluddin
Pengaruh Syaikh Thaher pada kolega atau muridnya ini di Minangkabau dilakukan melalui majalah Al-Imam, serta melalui sekolah yang ia dirikan, yaitu Al-Iqbal Al-Islamiyah, di Singapura ia bersama seorang yang bernama  Raja Haji Ali Ahmad pada tahun 1980. Walaupun sekolah ini segera dipindahkan ke Riau oleh karena kesukaran-kesukaran keuangan dan kelajutan di Riau tadi dilakukan tanpa partisipasi Syaikh Taher, namun sekolah di Singapura itu telah diambil sebagai model oleh Haji Abdullah Ahmad dalam mendirikakn sekolah Adabiyah di Padang. Haji Ahmad mengunjungi teman atau gurunya ini di Singapura dengan maksud sengaja mempelajari rencana sekolah tersebut. Haji Abdullah Ahmad benar-benar mencontohkan bentuk dan juga motto dari Al-imam pada majalah yang ia terbitkan  di Padang (al-munir).[3]

3.    Syaikh Muhammad djamil djambek
Pada tahun 1918 ia mendiikan suatu lembaga yang sampai sekarang masih terkenal dengan nama Surau Inyik Djambek. Surau ini merupakan pusat kegiatan untuk memberikan pelajaran agama, demikian juga merupakan tempat pertemuan bagi organisasi-organisasi islam serta tempat dimana makanan dihidangkan bagi tokoh-tokoh yang diundangnya untuk berdialog tadi.
Kira-kira tahun 1913 ia mendirikan di Bukittinggi suatu organisasi yang bersifat social, Tsamaratul Ikhwan, yang juga menerbitkan kitab-kitab kecil dan brosur-brosur tentang pelajaran  agama tanpa maksud mencari keuntungan. Beberapa tahun lamanya Djambek bergerak dalam organisasi ini, sampai pada saat organisasi tersebut diubah menjadi sebuah perusahaan penerbitan yang bersifat komersial. ketika itu ia tidak turut lagi dalam perusahaan tersebut. Ia sangat memberikan dorongan pada pembaharuan di Minangkabau dengan membantu organisasi-organisasi pembaharuan itu.

4.    Haji abdul karim amrullah (haji rasul)
Haji Rasul banyak mengadakan perjalanan keluar daerahnya. Yang  terpenting antaranya ialah kepergiannya ke Malaya (1916) dan ke jawa (1917). Dalam kunjungnnya ke jawa ini mengandalkan hubungan dengan pemimpin-pemimpin sarekat islam dan muhammadiyah. Dialah yang memperkenalkan muhammadiyah di Minangkabau pada tahun 1925, yang segera meluas dengan cepat.
Haji Rasul memang sangat aktif dalam gerakan di daerah Minangkabau. suraunya di Padang anjang tumbuh menjadi Sumatra Thawalib yang melahirkan persatuan muslimin Indonesia, suatu partai politik pada permulaan tahun 1930-an. Ia juga menjadi penasehat persatuan guru-guru agama islam pada tahun 1920. Ia memberikan bantuannya pada usaha mendirikan sekolah normal islam dipadang pada tahuun 1930. Ia menentang komunisme dengan sangat gigih pada tahun 1920.[4]

5.    Haji Abdullah ahmad
Keperluan terhadap pendidikan yang sistematis dan kenyataan bahwa tidak semua anak-anak dari pedagang di Padang dapat masuk sekolah-sekolah yang didirikan oleh pemerintah menyebabkan Haji Ahmad membuka sekolah Adabiyah dengan bantuan pedagang-pedagag ini. Ini terjadi pada tahun 1909 setelah Haji Ahmad mengunjungi sekolah Iqbal di Singapura. Di samping kegiatan ini, Haji Ahmad sangat aktif menulis, malahan ia menjadi ketua persatuan wartawan di Padang pada tahun 1914. Ia mempunyai hubungan yang sangat erat dengan siswa-siswa sekolah menengah pemerintah di Padang dan sekolah dokter di Jakarta dan memberikan bantuannya dalam kegiatan Jong Sumatra Bond. Ia merupakan pendiri dari majalah Al-Munir yang diterbitkan di Padang tahun 1911 sampai tahun 1916. Al-Akhbar tahun 1913 (salah satu majalah berita) dan menjadi redaktur dalam bidang agama dari majalah Al-Islam tahun 1918 yang diterbitkan oleh sarekat islam.[5]

6.    Syaikh Ibrahim musa
Syaikh Ibrahim musa memiliki peran yang besar dalam mendirikan lembaga-lembaga modern di Minangkabau. Ia membantu dalam gerakan pembaharuan dan mengikuti dua organisasi, baik kaum muda maupun kaum tua, yaitu persatuan guru-guru agama islam (kaum muda) dan ittihadul ulama (kaum tua). Dan suraunya terkenal dengan nama Thaawalib (parabek) dan sangat erat hubungannya dengan lembaga yang sama di Padang

7.    Zainuddin Labai Al-Junusi
Berbeda dengan para pembaharu lainnya, Labia lebih tertarik pada kehidupan dan kegiatan kalangan bangsawana, seperti musthafa  kamil di mesir daripada Abduh atau Rasyid Ridha yang lebih banyak memperhatikan soal agama. Dengan membuka sekolah guru diniyah (1915) ia mempergunakan system berkelas dengan kurikulum yang lebih teratur yang mencakup juga pengetahuan umum seperti bahasa, matematika, sejarah, ilmu bumi disamping pelajaran agama. Ia juga mengorganisir sebuah klub music untuk murid-muridnya.

C.           Lembaga-lembaga dan organisasi pembaharu dalam bidang social dan pendidikan
1.    Sekolah Adabiyah
Pada tahun 1909 sekolah ini hanya ada 20 orang murid yang kebanyakan diantaranya adalah anak pedagang, sekolah ini adalah sekolah dasar yang sama dengan sekolah HIS (Hollands Inlandse School) yang membedakan adalah adanya agama dan al-qur’an yang diajarkan secara wajib. Pada tahun 1915 sekolah ini menerima subsidi dari pemerintah. namanya pun diubah  menjadi Hollandsch Maleische School Adabiyah. Kepalanya adalah seorang blanda sehingga pelajaran agama agak kurang diperhatikan. Dan sejak saat itu tiang tumpuan bagi para pembaharu menjadi hilang.

2.    Surau jembatan besi
Surau ini mulanya memberikan pelajaran yang biasa seperti fiqh dan tafsir qur’an namun dengan masuknya Haji Abdullah Ahmad dan Haji Rasul mengajar disurau tersebut pelajaran lebih ditekankan pada ilmu alat berupa kemampuan untuk menguasai bahasa arab dan cabang-cabangnya. Maksudnya agar para siswa dapat mempelajari sendiri kitab-kitab yang diperlukan sehingga lambat laun islam semakin dikenal dari kedua sumber utamanya yaitu al-qur’an dan hadist. Dan maksud akhir dari surau jembatan besi ini didirikannya  sekolah Thawalib

3.    Sumatra thawalib
Haji jalaluddin Thaib, pada tahun 1919 mengintrodusi cara-cara mengajar moderen kedalam Thawalib, system berkelas yang lebih sempurna. Pada tahun berikutnya Thaib menjadi  ketua dari Sumatra Thawalib. Pada waktu itu organisasi tadi telah berkembang dan meluas melebihi kegiatan yang dilakukan sebelumnnya. Sehingga dapat dikatakan organisasi tersebut menjadi suatu badan yang mengawasi dan membina sekolah itu sendiri.

4.    Persatuan muslim Indonesia (PERMI)
Pada tahun 1929 organisasi Thawalib memperluas keanggotaannya pada semua bekas para pelajar dan guru-guru yang tidak lagi memiliki hubungan langsung dengan lembaga pendidikan tersebut. pada tahun berikutnya organisasi tersebut berubah menjadi persatuan  muslimin Indonesia. Pada tahun 1932 organisasi ini berubah menjadi partai politik yang kemudian disingkat menjaadi PERMI. Pada masa ini datang dua anak muda yaitu Ilyas Ja’kub dan Muchtar Luthfi. Mereka bergabung dengan Thawalib sebagai guru dan memberikan bimbingan dalam bidang politik. Sekitar tahun 1933 permi menderita tekanan-tekanan yang dilancarkan oleh pemerintah, pemimpin-pemimpin dibuang termasuk guru-guru yang mengajar dithawalib.

5.    Diniiyah dan al-madrasah al-diniyah
Pendidikan putra putri dalam rangka pembaharuan, disamping yang telah dikerjakan oleh Haji Abdullah dengan sekolah Adabiyah, merupakan suatu inisiatif dari Zainuddin Labia. ia mendirikan sekolah diniyah pada tahun 1915 yang merupakan perkembangan dari surau jembatan besi. Tekanan yang diberikan dalam pelajaran ialah ilmu pengetahuan umum, seperti sejarah ilmu hitung dan bahasa.
Dengan bantuan persatuan murid-murid diniyah school yang didirikan atas anjuran Labia. Rahmah mendirikan pada tanggal 1 November1923 sebuah sekolah khusus untuk putra putri dengan nama Al-Madrasah Al-Diniyah. Selain itu, Rahmah juga mengadakan pemberantasan buta huruf dikalangan ibu-ibu yang lebih tua.
Perkembangan kedua bagian dari sekolah diniyah ini kemudian berjalan lancar dan dalam tahun 1937 sebuah sekolah guru untuk puteri didirikan, yang disusul tak beberapa lama kemudian oleh pembukaan sekolah yang sama untuk putera.







BABIII
KESIMPULAN

A.      Latar belakang munculnya gerakan pembaharuan di Minangkabau
Minangkabau adalah suatu gerakan perubahan yang terutama didorong oleh corak keberagamaan masyarakat minangkabau. unsur dominan yang sangat mewarnai perkembangan awal islam dinusantara ialah kuatnya pengaruh sufisme , terutama sufisme tarekat. Yang paling menonnjol peranannya adalah tarekat syatariyah, qadariyah dan naqsabandiyah. Islamisasi minangkabau lebih terbentuk melalui akulturasi budaya ketimbang proses politik seperti proses islamisasi daerah lain di Indonesia Hal ini mengakibatkan perkembangan islam terkesan sangat lamban karena proses yang terjadi tidak melibatkan unsur pemaksaan kekuasaan politik

B.       Tokoh pembaharu di minangkabau
  1. Syaikh ahmad khatib
  2. Syaikh thaher djalaluddin
  3. Syaikh Muhammad djamil djambek
  4. Haji abdul karim amrullah (haji rasul)
  5. Haji Abdullah ahmad
  6. Syaikh Ibrahim musa
  7. Zainuddin Labai Al-Junusi

C.      Lembaga-lembaga dan organisasi pembaharu dalam bidang social dan pendidikan
  1. Sekolah Adabiyah
  2. Surau jembatan besi
  3. Sumatra thawalib
  4. Persatuan muslim Indonesia (PERMI)
  5. Diniiyah dan al-madrasah al-diniyah
DAFTAR PUSTAKA

Dody S Truna.dkk.2002.Pranata Islam Di Indonesia. Jakarta: Logos Wacana Ilmu
Noer Derlier.1995.Gerakan Modern Islam Di Indonesia 1900-1942. Jakata: PT Pustaka LP3ES Indonesia



[1] Truna.Doni S dan Ropi Ismantu.Pranata Islam Di Indonesia, (Jakarta: Logos Wacana Ilmu,2002)hal 32
[2] Noer Derlier.1995.Gerakan Modern Islam Di Indonesia 1900-1942. Jakata: PT Pustaka LP3ES Indonesia,Hal 40
[3] Ibid. hal, 41-42
[4] Ibid. hal, 44-46
[5] Ibid. hal, 46-47